The
chronicles of Ghazi The Clash of Cross and Crescent, merupakan buku kedua dari serial The
Chronicles of Ghazi karya Felix Y Siauw dan Sayf Muhammad Isa. Menemaniku ngabubureadku
menjadi lebih bersemangat. Selain ceritanya seru, buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar
ilustrasi yang menggambarkan adegan dalam cerita. Jadi lebih mudah membayangkannya,
seperti lagi nonton film dalam kepala.
Judul Buku : The
Chronicle Of Ghazi The Clash Of Cross and Crescent | Penulis : Felix Y. Siauw |
Ilustrator : Sayf Muhammad Isa | Penerbit : Al-Fatih Press |Tahun Terbit :
2016, Oktober Cetakan III | Jumlah Halaman : 363 |
Kelahiran Sang Penakluk
Keberhasilan
kesultanan Turki Ustmaniyah menaklukan berbagai wilayah kristendom membuat
lawannya kalang kabut. Mereka pun berusaha keras mencari cara agar dapat menghentikan laju Turki Ustmaniyah. Salah
satunya dengan mendirikan Ordo Naga seperti yang disarankan oleh permaisuri
kerajaan Hungaria, Ratu Barbara Celje.
Selain
itu, Sang Permaisuri bertopeng perak ini memerintahkan anak buahnya untuk
menghabisi semua anak-anak Sultan Murad II. Agar terjadi kekacauan di kesultanan Turki
Ustmaniyah, jika Sultan Murad II wafat tanpa meninggalkan seorang pewaris.
George,
pelayan setia Ratu Barbara, memerintahkan Baba Najat untuk menjadi eksekutor
perintah jahat itu. Laki-laki berhidung besar dan bengkok ini menyusup
secara diam-diam ke Kantor Wali Amasya, dengan
menyamar sebagai pelayan dan berhasil merenggut nyawa kedua anak sultan Murad.
Saat itu Ahmed dan Ali sedang menjadi
Wali atau Amir di daerah tersebut. (timingnya beda ya teman-teman).
Setelah
Ahmed dan Ali syahid, Sultan Murad II menggantungkan cita-cita dan harapan
untuk menaklukan Konstantinopel kepada putra bungsunya yaitu Mehmed. Agar
keamanan putra bungsunya lebih terjamin, Sang Sultan memerintahkan Mehmed untuk
kembali ke Edirne dan senantiasa mendapat pengawalan dari pasukan Janisary.
Sang
Sultan pun benar-benar mempersiapkan Mehmed untuk mendapatkan anugerah menjadi
sebaik-baik pimpinan sebagaimana yang dibisarahkan Oleh Rasulullah Saw. Ia
meminta Syaikh Qur’ani dan Syaikh Aaq Syamsudin untuk menjadi guru bagi putra
bungsunya.
Selain
itu, Mehmed juga menjadi siswa di Mekteb
I Harbiye yaitu Akademi Militer Turki Ustmani yang sekaligus menjadi Pusat
Pelatihan Prajurit Ustmani. Meskipun Mehmed adalah seorang Sehzade atau
pangeran, disana ia diperlakukan sama
dengan murid-murid lainnya. Ia
digembleng dengan latihan-latihan keras dan melelahkan.
Mekteb
i Harbiye pun menjadi tempat yang mempertemukan takdir dua orang anak manusia
yang belajar dan tumbuh bersama, yang kelak kemudian hari menjadi musuh besar
yaitu Mehmed dan Vlad Dracula. Keduanya akan saling berhadapan pada sisi yang
berseberangan.
Vlad
Dracula sejatinya adalah tahanan yang dijadikan jaminan oleh ayahnya, Vlad
seorang bangsawan Walachia, agar Sultan Murad berkenan memberi bantuan militer.
Untuk merebut kembali kedudukannya sebagai Voivode Walachia yang dijatuhkan
oleh klan Danesti atas sokongan dari kerajaan Hungaria.
2in1
Membaca
buku bergenre faksi seperti The chronicles of Ghazi The Clash of Cross and
Crescent ini, saya bisa mendapat keuntungan yang berlipat (kok kayak lagi
jualan aja ya?), maksudnya manfaat lebih. Soalnya selain terhibur dengan jalan ceritanya,
kita juga dapat menambah ilmu pengetahuan.
Seandainya
semua buku sejarah diceritakan seperti ini, pasti deh anak-anak muda suka
bacanya. Pesan-pesannya juga akan tersampaikan dan dapat diingat dengan baik. Karena
hati mereka senang dan terhibur menyimak ceritanya, tidak merasa sedang belajar.
Ngomong-ngomong
soal pesan, saya dapat menangkap pesan dari buku ini bahwa orang tua harus
senantiasa menghidupkan cita-cita kepada anak sejak dini. Sebagaimana halnya
yang dilakukan oleh Sultan Murad dan leluhurnya kepada anak keturunan mereka.
Para
penguasa Turki Ustmani senantiasa menggaungkan harapan dan cita-cita untuk
menaklukan Konstantinopel, dalam benak anak-anaknya dari ke waktu. Bahkan Ahmed
dan Ali sebelum menghembuskan napas terakhirnya mengatakan kepada adik mereka “Ghazi……Konstantinopel…..”.
MasyaAllah luar biasa.
Selain
itu, buku ini juga menggambarkan bagaiamana lingkungan itu dapat membentuk
kepribadian seorang anak. Vlad Dracula yang dari kecil akrab dengan balas
dendam, perilaku kasar dan kekejaman. Ia tumbuh menjadi anak yang dingin dan kejam.
Pada
usia yang begitu dini, anak itu sudah bisa menghilangkan nyawa seorang penjaga
makam karena dianggap telah menghina ibunya.
Dia juga menginginkan kematian ayahnya karena merasa kecewa telah dititipkan di
Kesultanan Turki yang notabene adalah musuh yang harus dibumihanguskan.
Okh
iya buku ini juga dilengkapi dengan catatan-catatan kaki yang memberi
penjelasan sebuah peristiwa atau perbuatan dalam sudut pandang Islam, misalnya
datang ke peramal atau hujan deras yang dianggap tanda kesialan. Dalam catatan
kaki diterangkan bahwa perbuatan tersebut dalam Islam termasuk perbuatan syirik.
Mencerahkan
banget kan? Keren pisan.
Baca
buku ini juga jadi tahu beberapa istilah Turki misalnya pedang khas turki
disebut dengan scimitar, kalau belatinya disebut yatagan.
Pesan Syaikh Aaq Syamsudin Kepada Mehmed
“Aku
tahu, Nak, bahwa kalau engkau berkonsentrasi beribadah dan meninggalkan
kesultanan, maka semua kenikmatan menjadi sultan akan runtuh dihadapan
kenikmatanmu beribadah kepada Allah. Tetapi, Nak, keberadaanmu di kursi
kesultanan jauh lebih bermanfaat bagi orang banyak, daripada engkau menikmati
ibadahmu sendiri”
No comments:
Post a Comment
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.